Google
 

Senin, 21 Januari 2008

Mengapa perlu Investasi

Kalau boleh dibilang, pasti deh hampir semua orang ingin berinvestasi. sebenarnya alasannya sama saja mengapa orang tertarik untuk memulai suatu usaha, yaitu untuk mendapatkan tambahan uang dalam jangka panjang dan untuk ditabung guna persiapan masa yang akan datang.
Alasan lain adalah untuk menghindarkan kita dari masalah-masalah keuangan yang kompleks dengan meyerahkan hal tersebut kepada para profesional, disisi yang lain kita dapat memperoleh keuntungan yang menarik setelah dikurangi tingkat inflasi.

Sebagai refleksi, berapa banyak sih dari penduduk Indonesia tercinta ini yang pada masa pensiun memiliki kebebasan finansial? Atau tidak muluk-muluk, setidaknya biaya hidupnya tidak dibebankan pada anak-anaknya, mau pergi sana-sini fasilitas tersedia ( kendaraan, uang, dll). Sangat sedikit bukan? Kebanyakan ketika kondisi fisik sudah semakin tidak memungkinkan (beberapa malah masih memiliki tanggungan anak yang belum lagi mandiri secara finansial), sumber penghasilannya sudah tidak ada namun tidak memiliki tabungan sama sekali. Nah lo... apakah berpuluh tahun kerja hasilnya hilang sama sekali?
Ehm.. kalau boleh jujur, kebanyakan dari masyarakat kita masih 'buta' investasi.. dengan keterbatasan ekonomi, kita lebih sering menunda-nunda tabungan untuk masa pensiun dengan alasan klasik 'buat makan sehari-hari aja dan biaya anak-anak bekum tentu cukup' ata ' gue kan masih muda, pensiun masih lama banget..tenang aja...'. Tanpa disadari .. "BOM".. sudah masuk masa pensiun tanpa persiapan apapun.

Kalaupun sadar, apa yang dilakukan?

Tabungan, Deposito

Hanya sebatas inilah yang diketahui masyarakat luas. Sementara hasilnya tidak bisa melampaui laju inflasi. Akibatnya, nilai uang kita sebenarnya tidak bertambah, hanya secara nominal saja bertambah (kalau rutin diisi tabungannya :P ); namun akhirnya kalah dengan laju inflasi.

Satu hal, banyaknya hasil simpanan kita di masa yang akan datang tidak mutlak tergantung besarnya yang kita simpan sekarang, tapi lebih pada instrumen apa yang kita pilih untuk menginvestasikan uang kita? Contoh, seseorang yang menabungkan uangnya 100 juta di deposito, anggap dengan bunga flat 9% p.a; setelah 20 tahun, jika dibandingkan dengan orang yang menaruh investasinya hanya separuh yakni 50 juta di istrumen reksadana campuran jika asumsi flat 17% p.a; maka hasil yang diperolehnya bahkan 2 kali lipat lebih banyak dari hasil yang diperoleh orang yang mendepositokan 100 juta.
Nah, instrumen yang kita gunakan akan sangat berpengaruh. Tapi tentu ada resiko yang mengikutinya.
Banyak yang takut resiko reksadana ataupun yang namanya INVESTASI uang? padahal, kalau membuka suatu usaha, itu pun disebut investasi karena juga mengandung resiko. Ada resiko perusahaan bangkrut, gagal sebelum berkembang, dsb. jadi; high risk high return.
Sebenarnya kalau kita mau melihat lebih dalam, kita bisa meminimalkan resiko dengan jangka waktu investasi yang panjang. Reksadana (terutama saham) memang sangat berfluktuasi jika dilihat dalam jangka waktu pendek (harian-bulanan), namun memiliki tingkat pengembalian yang besar (melebihi inflasi) jika dalam jangka waktu panjang.
Juga, menentukan tujuan finansial kita dan mengetahui toleransi kita terhadap resiko, akan sangat mendukung dalam kita mulai berinvesi. Next time akan kita coba untuk membahas lebih lanjut, atau at least link artikel-artikel yang dapat menambah referensi kita semua.
***

Tidak ada komentar: